https://ejurnalunsam.id/index.php/JQ/issue/feedQuimica: Jurnal Kimia Sains dan Terapan2026-11-05T09:36:58+00:00Halimatussakdiah, S.Si., M.Scmipakimia@unsam.ac.idOpen Journal Systemshttps://ejurnalunsam.id/index.php/JQ/article/view/15369Nanopartikel Perak Berbasis Sintesis Hijau: Prinsip Sintesis, Karakterisasi, Mekanisme Antimikroba, Aplikasi Biomedis, Toksisitas, dan Arah Pengembangan2026-11-05T09:36:58+00:00Rizki DamayantiDamay.vie@gmail.comRahayu RahayuRahayu@unsam.ac.idTisna Harmawantisna_harmawan@unsam.ac.idArissa SabillaArissasabilla@unsam.ac.id<p>Nanopartikel perak (AgNPs) merupakan nanomaterial multifungsi yang menarik perhatian luas karena kombinasi sifat plasmonik, luas permukaan tinggi, dan aktivitas antimikroba yang kuat. Artikel ulasan ini merangkum prinsip sintesis AgNPs secara fisika, kimia, dan sintesis hijau, dengan penekanan pada sintesis hijau berbasis ekstrak tumbuhan yang memanfaatkan senyawa fenolik dan flavonoid sebagai agen pereduksi sekaligus penstabil (<em>capping agent</em>). Karakterisasi AgNPs dibahas secara multidimensional melalui UV–Vis, TEM/SEM, DLS, zeta potential, XRD, dan FTIR/XPS untuk mengungkap ukuran, morfologi, struktur kristal, dan kimia permukaan nanopartikel. Kajian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri AgNPs bersifat multitarget, meliputi interaksi dan kerusakan membran sel, pembentukan <em>reactive oxygen species</em> (ROS), pelepasan ion Ag⁺, serta gangguan protein dan DNA, yang secara bersamaan berkontribusi terhadap efek bakterisidal terhadap mikroorganisme patogen maupun <em>multidrug-resistant</em>. Ulasan ini juga membahas aplikasi biomedis AgNPs, khususnya sebagai <em>wound dressing</em> dan agen antiinflamasi, serta pemanfaatannya dalam kemasan antimikroba dan pengolahan air. Namun, potensi toksisitas terhadap sel mamalia dan risiko munculnya resistensi mikroba terhadap perak menegaskan bahwa AgNPs bukan solusi tunggal dan memerlukan pendekatan berbasis risiko. Tantangan utama dalam sintesis hijau adalah variabilitas komposisi ekstrak tumbuhan yang memengaruhi reproduktibilitas nanopartikel yang dihasilkan. Ulasan ini menyimpulkan bahwa pengembangan AgNPs ke depan perlu mengintegrasikan standardisasi sintesis, karakterisasi multidimensional, dan analisis <em>structure–activity relationship</em> agar diperoleh material dengan aktivitas biologis tinggi, keamanan, dan stabilitas yang dapat dikendalikan.</p>2026-10-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Quimica: Jurnal Kimia Sains dan Terapanhttps://ejurnalunsam.id/index.php/JQ/article/view/15204Perbandingan Efisiensi Microwave-Assisted Hydrodistillation (MAHD) pada Ekstraksi Minyak Atsiri Jahe Segar dan Kering: Kajian Pengaruh Daya dan Waktu2026-11-05T08:51:12+00:00Faisal Faisalfaisal.88@unimal.ac.idIqbal Kamariqbalkamarsyam@unimal.ac.idMisbul Hadimisbulhadi@unimal.ac.idSelly Maliaselly.220140069@mhs.unimal.ac.idLatifah Hanum latifahhanum.220140084@mhs.unimal.ac.id<p>Jahe (<em>Zingiber officinale</em>) merupakan komoditas rempah bernilai ekonomi tinggi yang kaya akan minyak atsiri, namun pemanfaatannya masih terkendala efisiensi metode ekstraksi konvensional. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh daya microwave (300, 450, dan 600 W) dan waktu ekstraksi (15–22 menit) terhadap <em>yield</em> dan profil senyawa minyak atsiri jahe segar dan kering menggunakan metode <em>Microwave-Assisted Hydrodistillation</em> (MAHD), sekaligus menentukan kondisi operasi optimum berdasarkan analisis kinetika ekstraksi orde satu. <em>Yield</em> tertinggi pada jahe segar diperoleh pada 600 W, 22 menit (0,69%), sedangkan pada jahe kering <em>yield</em> tertinggi tercapai pada 600 W/20 menit (0,89%) sebelum menurun menjadi 0,83% pada 22 menit akibat degradasi termal, sehingga 20 menit ditetapkan sebagai kondisi optimum untuk jahe kering. Analisis kinetika orde satu menghasilkan konstanta laju ekstraksi (k) berkisar 0,276–0,651 menit⁻¹ dengan koefisien determinasi (R²) 0,954–0,982, dan menunjukkan bahwa jahe kering pada 600 W memiliki laju ekstraksi tercepat (waktu paruh 1,06 menit). Pengamatan SEM mengonfirmasi bahwa peningkatan daya <em>microwave</em> menyebabkan kerusakan struktur dinding sel yang lebih besar, mendukung peningkatan <em>yield</em> yang teramati.</p>2026-11-02T02:20:59+00:00Copyright (c) 2026 Quimica: Jurnal Kimia Sains dan Terapan