Jurnal Samudra Bahasa https://ejurnalunsam.id/index.php/JSB <p align="justify">Jurnal Samudra Bahasa, nama tersebut dipilih sebagai upaya untuk tetap menjadikan keterampilan berbahasa sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan. &nbsp;Jurnal ini memuat artikel tentang bahasa, sastra Indonesia, dan pengajarannya. Jurnal Samudra Bahasa diterbitkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samudra, Jurnal samudra ini terbit dua kali dalam setahun.&nbsp; Terbitan pertama pada tahun berjalan adalah bulan Januari dan terbitan kedua adalah bulan Juli. Setiap kali terbit, jurnal ini memuat tujuh artikel yang mengkaji dan membahas masalah pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Jurnal ini memuat artikel hasil penelitian, gagasan konseptual, yang ditulis dalam bahasa Indonesia.</p> Program Studi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samudra en-US Jurnal Samudra Bahasa 2716-3113 ANALISIS KONFLIK DALAM NOVEL KURA-KURA BERJANGGUT KARYA AZHARI AIYUB https://ejurnalunsam.id/index.php/JSB/article/view/3328 <p>Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik eksternal dan konflik internal yang terdapat dalam novel Novel <em>Kura-Kura Berjanggut</em> karya Azhari Aiyub. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu konflik eksternal dan konflik internal yang terdapat dalam novel<em> Kura-Kura Berjanggut </em>karya Azhari Aiyub. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi Teknik analisis data dengan mengggunakan analisis kualitatif. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi di luar diri tokoh fiksi sedangkan konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam diri atau pikiran tokoh yang disebut dengan konflik batin.&nbsp; Hasil penelitian dalam novel <em>Kura-kura Berjanggut</em> karya Azhari Aiyub menunjukkan tentang konflik eksternal dan konflik internal yang dialami oleh tokoh. Novel <em>Kura-kura Berjanggut</em> menunjukkan beberapa konflik yang terjadi pada tokoh yaitu konflik manusia dengan manusia yang berupa perdebatan, perkelahian, dan pertengkaran. Konflik manusia dengan masyarakat, konflik manusia dengan alam sekitar, dan konflik internal yang terdiri atas suasana hati tokoh dan ketakutan yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Penulis berharap kepada pengarang novel <em>Kura-kura Berjanggut </em>agar menampilkan cerita sesuai dengan judul agar memudahkan pembaca dalam memahami cerita.&nbsp;</p> Lisa Mariani Muhammad Yakob Muhammad Taufik Hidayat Copyright (c) 2021 Jurnal Samudra Bahasa 2021-03-08 2021-03-08 4 1 1 10 10.33059/jsb.v4i1.3328 UNGKAPAN BEREVEREN NEGARA DAN SUKU BANGSA DALAM MASYARAKAT ACEH https://ejurnalunsam.id/index.php/JSB/article/view/3329 <p>Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang penggunaan ungkapan bereveren suku bangsa dna negara dalam masyarakat Aceh. Data ungkapan diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat dan mahasiswa Aceh dan hasil kajian penulis sendiri yang merupakan mahasiswa Aceh. Data dianalisis dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan teknik pancing, sadap, catat, dan rekam serta kaji dokumen. Hasil penelitian adalah (1) masyarakat Aceh masih menggunakan ungkapan dalam menamsilkan sesuatu hal. Ungkapan yang digunakan bermacam-macam termasuk ungkapan yang bereveren suku bangsa dan negara; (2) Dari sebelas ungkapan yang dipaparkan pada hasil penelitian, terdapat 3 jenis ungkapan yang menyebutkan suku bangsa yang ada di Aceh dan terdapat 8 ungkapan yang menyebutkan negara asing. Kesebelas reverensi tersebut mempunyai hubungan dengan masyarakat Aceh, kecuali Afrika yang tidak pernah memiliki sejarah di Aceh; (3) masyarakat Aceh memposisikan orang-orang yag mempunyai sikap buruk dengan negara-negara yang pernah membuat keburukan di Aceh. Sedangkan sikap-sikap yang lainnya yang ditamsilkan kepada seseorang adalah hasil pengamatannya sendiri di lingkungan kehidupan masyarakat Aceh. Ungkapan yang sangat tidak disukai adalah ungkapan perumpamaan yahudi. Karena mayoritas masyarakat Aceh adalah orang islam dan yahudi adalah musuh islam.&nbsp;</p> Azrul Rizki Copyright (c) 2021 Jurnal Samudra Bahasa 2021-03-08 2021-03-08 4 1 11 22 10.33059/jsb.v4i1.3329 ANALISIS MAJAS IRONI PADA SURAT KABAR PROHABA https://ejurnalunsam.id/index.php/JSB/article/view/3330 <p>Artikel ini mendeskripsikan majas ironi yang terdapat pada&nbsp; judul dan isi berita dalam Surat Kabar Prohaba. Artikel ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskripif. Sumber data dalam artikel ini adalah surat kabar Prohaba yang terbit pada bulan April 2020.&nbsp; Sumber data yang diambil keseluruhannya berjumlah 30 buah&nbsp; koran dari 30 hari. Data yang diambil secara acak setiap harinya mulai tanggal 1-30 April 2020.&nbsp; Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini adalah teknik dokumentasi dan teknik catat. Adapun teknik analisis yang digunakan terbagi ke dalam tiga tahapan diantaranya yaitu: (1) data yang telah diseleksi kemudian dideskripsikan ke dalam sebuah tabel sesuai dengan jenis majas ironi, (2) memberikan nomor pada berita yang telah dipilih, (3) kemudian ditarik kesimpulan hasil analisis majas ironi pada Judul dan isi surat kabar Prohaba seluruhnya. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan data seluruhnya berjumlah tiga puluh tiga majas ironi yang tersebar ke dalam judul dan isi berita surat kabar Prohaba. Dua belas data dari judul dan dua puluh satu data dari isi berita. Penulis berharap kepada wartawan agar dapat diadakannya suatu perbaikan yang lebih baik lagi mengenai beberapa pemilihan kata yang&nbsp; masih terlihat samar-samar dalam penggunaannya pada surat kabar Prohaba agar masyarakat dapat lebih mudah memahami&nbsp; berita yang disampaikan.</p> Erni Zahara Muhammad Yakob Muhammad Taufik Hidayat Copyright (c) 2021 Jurnal Samudra Bahasa 2021-03-08 2021-03-08 4 1 23 30 10.33059/jsb.v4i1.3330 ANALISIS MAKNA DAN FUNGSI UNGKAPAN BAHASA ACEH DI KECAMATAN TANAH JAMBO AYE, ACEH UTARA https://ejurnalunsam.id/index.php/JSB/article/view/3331 <p>Artikel ini mendeskripsikan makna dan fungsi ungkapan bahasa Aceh di wilayah Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan menggunakan teknik rekam catat sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: (1) masyarakat Tanah Jambo Aye, Aceh Utara masih menjaga keutuhan kebudayaan termasuk ungkapan. Ungkapan tersebut dipelihara oleh masyarakat dengan cara rutin menyebutnya dalam proses kehidupan. (2) Terdapat 20 ungkapan yang sering digunakan oleh masyarakat Tanah jamboe Ayee yang semuanya mengandung makna atau maksud dan fungsi serta keduanya bernilai positif. (3) Kedua puluh ungkapan itu bermakna ;kesetiaan, keadilan, ketenteraman, keseimbangan hidup, keserasian, ketamakan, kritik sosial, ketergantungan, mendidik, persahabatan, bimbingan, dan nasihat; (4) fungsi ungkapan dipakai sebagai untuk alat melarang, mendidik, mengingatkan, menghibur, penebal emosi keagamaan dan cambuk diri.</p> Muhammad Arif Fadhilah Copyright (c) 2021 Jurnal Samudra Bahasa 2021-03-08 2021-03-08 4 1 31 40 10.33059/jsb.v4i1.3331 KESANTUNAN BERBAHASA PEDAGANG KAKI LIMA KOTA LANGSA https://ejurnalunsam.id/index.php/JSB/article/view/3332 <p>Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Kesantunan Berbahasa Pedagang Kaki Lima&nbsp; Kota Langsa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif. Sumber data diperoleh dari semua tuturan yang mengandung kesantunan berbahasa di dalam transaksi jual beli antara pedagang kaki lima dengan pembeli di Jln. Teuku Umar Langsa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik rekam, catat dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain dengan mendengar dan menganalisis tuturan berdasarkan teori Leech yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Hasil analisis yang telah didapatkan&nbsp; menunjukan bahwa kesantunan berbahasa pedagang kaki lima Kota Langsa&nbsp; tuturan yang mengandung maksim kesimpatian lebih dominan dibandingkan maksim kebijaksanaa, maksim kedemawanan, maksim pujian, maksim kesimpatian serta tidak ditemukan maksim kesederhanaan. Hal ini dikarenakan pada situasi jual beli antara pedagang dan pembeli masing-masing berupaya untuk menunjukan rasa simpati kepada kedua be;ah pihak&nbsp; serta ditemukan sedikit&nbsp; tuturan yang melanggar prinsip kesantuan berbahasa</p> Teuku Zulkifli Joko Hariadi Muhammad Taufik Hidayat Copyright (c) 2021 Jurnal Samudra Bahasa 2021-03-08 2021-03-08 4 1 41 57 10.33059/jsb.v4i1.3332