Surat Kabar Al-Wivac Tahun 1925: Protes Umat Islam Yogyakarta Terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda

Al-Wivac Newspaper In 1925: Protest Of Yogyakarta Muslims Against The Colonial Government Of The Dutch East Indies

  • Wanda Marshanda Universitas Negeri Semarang
  • Ibnu Sodiq Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Abstract

Pada masa kolonial Hindia Belanda, pemerintah memberlakukan kebijakan yang mewajibkan umat Islam mengantongi izin untuk melaksanakan ibadah di luar masjid. Kebijakan ini memicu protes, salah satunya melalui pemberitaan surat kabar Al-Wivac tahun 1925. Tujuan dari penelitian ini ialah menjelaskan bagaimana peran serta pengaruh pemberitaan izin ibadah dalam surat kabar Al-Wivac di tahun 1925 terhadap peraturan pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah metode penelitian sejarah yang meliputi: heuristik atau pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini yaitu surat kabar Al-Wivac berperan penting sebagai wadah bagi umat Islam untuk berkomunikasi, selain itu Al-Wivac juga dijadikan sebagai media bagi umat Islam untuk menyuarakan pendapatnya mengenai kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap tidak adil dan mengekang umat Islam untuk menyelenggarakan Salat Idul Fitri di lapangan. Protes-protes yang dilakukan oleh umat Islam di berbagai surat kabar sayangnya tidak cukup untuk membuat pemerintah Hindia Belanda menghapuskan ataupun mengubah peraturan mengenai izin Salat Idul Fitri di lapangan. Meskipun demikian, perizinan mengenai ibadah di lapangan mulai dilonggarkan pada tahun 1934 hal ini tidak lepas dari upaya Muhammadiyah dalam mengkritik dan menekan pemerintah. Penelitian ini menunjukkan peran pers Islam sebagai alat kritik kebijakan kolonial, sekaligus mengungkap keterbatasan pengaruhnya dalam perubahan regulasi.

References

Aisyah, N. (2025). Sejarah Salat Id di Lapangan pada Masa Kolonial Belanda, Organisasi Ini Pelopornya. Detik.Com.

Al-Fattah, M. . (1925, 10 November). Maoe Menghasoet? Al-Wivac Melayu, 3.

Al-Gelini, H. (1925, 8 September). Sembahjang Mesti Permisi. Al-Wivac Melayu, 5.

Al-Moehami, K. (1925, 10 November). Protest Djamaatal Chilafah. Al-Wivac Melayu, 3.

Alfattah, M. . (1925a, 10 November). Soerabaiasch Handelsblad Membohong. Al-Wivac Melayu, 4.

Alfattah, M. M. (1925b, 8 September). Satoekanlah Bahasa. Al-Wivac Melayu, 2.

Alfattah, M. M. (1925c, 1 September). Pendahoeloean. Al-Wivac Melayu, 2.

Alfattah, M. M. (1926, 6 Januari). Kesoesahan Al-Wivac dalam 3 Tahoen Perdjalanan. Al-Wivac Melayu, 1–2.

Anarki, R. L. (2024). Sejarah Awal Mula Salat Idul Fitri di Lapangan Terbuka, Siapa Perintisnya? Sea Today. https://ramadan.seatoday.com/id/rahvana-lintas-anarki/3408/sejarah-muhammadiyah-pionir-salat-idulfitri-di-lapangan-terbuka

Balahmar, A. R. U. (2021). Press freedom: Using the role of government and reporters in the development of democracy in Indonesia. Academy of Strategic Management Journal, 20(2), 1–10.

Bertjoejoeran Air Mata Oemmat Islam. (1925, 1 September). Al-Wivac Melayu, 4.

Bertrand, R. (2006). Dutch orientalism and empire-building: Colonial sciences and the birth of a “Muslim policy” in the Dutch East Indies. Raisons Politiques, 22(2), 95–117.

Burhanudin, J. (2014). The dutch colonial policy on islam: Reading the intellectual journey of Snouck Hurgronje. Al-Jami’ah, 52(1), 25–58. https://doi.org/10.14421/ajis.2014.521.25-58

Centraal Comite. (1925, 1 September). Sembahjang Mesti Permissi! Al-Wivac Melayu, 3.

Diflaa. (1925, 1 September). Samboetan. Al-Wivac Melayu, 6.

Djebaldroes. (1925, 1 December). Al-Wivac Melayu, 6.

Efendi, A. (2019). Perkembangan Pers di Indonesia. ALPRIN.

Gottschalk, L. (1975). Mengerti sejarah: pengantar metode sejarah. Yayasan Penerbit UI.

Habermas, J. (1991). The Structural Transformation Of The Public Sphere. MIT Press

Islam di Djawa. (1925, 15 September). Al-Wivac Melayu, 5.

Jung, D. (2010). “Islam as a problem”: Dutch religious politics in the east Indies. Review of Religious Research, 51(3), 288–301.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Tiara Wacana.

Lasswell, H. D. (1948). The Structure and Function Of Communication in Society. In The Communication Of Ideas. Institute for Religious and Social Studies.

Lutfiyah, A. (2020). Peran Koran Suara Merdeka terhadap Gerakan Mahasiswa di Semarang Tahun 1998. (Skripsi, Universitas Negeri Semarang)

Maoe Menghasoet? (1925, 1 Desember). Al-Wivac Melayu, 2.

McFate, M. (2019). Useful Knowledge: Snouck Hurgronje and Islamic Insurgency in Aceh. Orbis, 63(3), 416–439. https://doi.org/10.1016/j.orbis.2019.05.005

Mobini, N. (1996). The Arab Periodicals of the Netherlands East Indies, 1914-1942. Bijdragen Tot de Taal-, Land-En Volkenkunde, 1996.

Moechadam, A. . (1925, 10 November). Gembira. Al-Wivac Melayu, 6.

Mukaromah, S., & Matin, U. A. (2023). Peranan Surat Kabar Al-Wivac (Permufakatan) Sebagai Media Komunikasi antara Muslim Indonesia dengan Muslim di Timur Tengah pada Tahun 1923-1926. (Skripsi, Universitas Islam Negeri Jakarta).

Noer, D. (1982). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES.

Putuhena, M. (2007). Historiografi Haji Indonesia. LkiS.

Samah, M. J. (1925, 8 September). Sembahjang Hadjat Bagi Orang Jang Hidoep Dipoelau Djawa. Al-Wivac Melayu, 6.

Sembahjang Misti Permisi: Aneh dan ’Adjaib. (1925, 15 September). Al-Wivac Melayu, 5.

Sjamsudin, H., & Ismaun, H. (1996). Pengantar Ilmu Sejarah. Depdikbud.

Soerb-Hdbl Menghasoet: Masih selamanja pemboesoekan. (1926, 6 Januari). Al-Wivac Melayu, 2.

Suminto, A. (1985). Politik Islam Hindia Belanda. LP3ES.

Zahra, N., & Fatimah, F. (2023). Konsep PAN-islamisme menurut pemikiran Jamaluddin Al-Afghani dalam perkembangan partai politik di Indonesia. Jurnal Educatio: Jurnal Pendidikan Indonesia, 9(1), 228. https://doi.org/10.29210/1202322802

Published
2025-05-29
How to Cite
Marshanda, W., & Sodiq, I. (2025). Surat Kabar Al-Wivac Tahun 1925: Protes Umat Islam Yogyakarta Terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. SEUNEUBOK LADA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya Dan Pendidikan, 12(1), 81-100. https://doi.org/10.33059/jsnbl.v12i1.11702