Revitalisasi Sejarah dan Sosial-Budaya Kesultanan Serdang

Revitalization of the History and Socio-Cultural of the Sultanate of Serdang

  • Hanif Harahap Program Pendidikan Sejarah, Universitas Samudra
  • Alfa Ichatul Jannah Pendidikan Sejarah, Universitas Samudra
  • Rita Wahyuni Pendidikan Sejarah, Universitas Samudra
  • Deby Chintia Saragih Pendidikan Sejarah, Universitas Samudra
Keywords: revitalisasi sejarah, sosial-budaya, kesultanan serdang

Abstract

The Sultanate of Serdang is one of the four largest Malay Sultanates of East Sumatra. In its historical development, this Sultanate experienced ups and downs of glory, until the events of the 1946 Social Revolution and the Dutch Military Aggression became the turning point of its decline. Despite the loss of political power, the pulse of history, social and culture remained alive in the hands of the next ruler, one of which was Sultan Tuanku Luckman Sinar Basarshah II SH. On his initiative, historical and socio-cultural revitalization was encouraged. This research uses historical research methods with the support of field data and observations. The construction of a replica of the Darul Arif Palace is an effort to re-present the historical symbol of the Sultanate of Serdang in the public space in the form of collective memory. As well as efforts to build momentum for the development of regional identity in Serdang Bedagai Regency.

References

Azhari, Ichwan. (2013). Kesultanan Serdang: Perkembangan Islam pada Masa Pemerintahan Shariful Alamsyah. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazahah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian agama RI.
Di, Serdang, & Serdang, Kabupaten. (2023). H k a m. 3, 49–66.
Khairuddin. (2016). Peran Kesultanan Serdang dalam Pengembangan Islam di Serdang Bedagai.
Nurdin, Ismail, & Hartati, Sri. (2019). Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Media Sahabat Cendikia.
Pelly, Usman, Dkk. (2019). Tak Hilang Melayu di Bumi. Medan: Casa Mesra Publisher.
Pelly, Usman &. Alfian Teuku Ibrahim. (1986). Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli dan Serdang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pelzer, Karl. J. (1985). Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria. Jakarta: Sinar Harapan.
Perret, Daniel. (2010). Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Jakarta: KPG.
Reid, Anthony. (n.d.). Asal Mula Konflik Aceh Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: YOI.
Reid, Anthony. (2012). Sumatera Revolusi dan Elite Tradisional. Jakarta: Komunitas Bambu.
Ricu Sidiq, N, Najuah, Sari, Ika Purnama, & Olivia, Friska. (2022). Sejarah Berdirinya Kesultanan Serdang 1723-1946. Jurnal Pendidikan Sejarah, 11(2), 89–102. https://doi.org/10.21009/jps.112.05
Sari, Indah Permata. (2026). Istana Darul Arif, Jejak Kejayaan Kesultanan Serdang di Perbaungan. IDN Times Sumut. Retrieved from https://sumut.idntimes.com/news/sumatra-utara/istana-darul-arif-jejak-kejayaan-kesultanan-serdang-di-perbaungan-00-fj96j-8w4sk7
Sinar, Luckman. (1971). Sari Sejarah Serdang 1. Medan: Balai Pustaka.
Sinar, Tengku Luckman. (2006). Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang.
Sjamsuddin, Helius. (2012). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Sugiono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Takari, M. (2012). Sejarah Kesultanan Deli dan Peradaban Masyarakatnya. Medan: USU Press.
Published
2026-10-25
How to Cite
Harahap, H., Jannah , A. I., Wahyuni , R., & Saragih, D. C. (2026). Revitalisasi Sejarah dan Sosial-Budaya Kesultanan Serdang . SEUNEUBOK LADA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya Dan Pendidikan, 13(1), 256-266. https://doi.org/10.33059/jsnbl.v13i1.15257