open access

Abstract

Padi gogo memiliki potensi untuk mendukung peningkatan produksi padi nasional, dan merupakan solusi yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan ketahanan pangan. Lahan kering di Provinsi Aceh saat ini mencapai 530.638 ha, Sedangkan dari jumlah lahan kering tersebut yang baru ditanami hanya sekitar 2.563 ha. Lahan kering yang tersedia tersebut sangat potensial untuk pengembangan tanaman padi gogo. Namun demikian, budidaya di dataran rendah terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi seperti adanya musim kering yang panjang atau rentannya terhadap cekaman suhu tinggi. Fase pembentukan malai pada tanaman padi sangat sensitif terhadap suhu tinggi, peningkatan suhu terutama pada saat pembungaan dapat meningkatkan sterilitas biji. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mendapatkan varietas-varietas padi yang tahan cekaman suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengkategorikan tingkat ketahanan beberapa varietas padi gogo lokal aceh terhadap cekaman suhu tinggi selama fase reproduktif bedasarkan karakter komponen hasil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan tiga ulangan, faktor pertama yaitu varietas padi gogo lokal Aceh (V) yang terdiri dari : Sileso (V1), Sibontol (V2), Sigedul (V3), Angkop (V4), Rias Kuning (V5) dan Rias Putih (V6) dan  Faktor kedua yaitu perlakuan suhu (S) yang terdiri dari : S0 (suhu lingkungan 28-33 0C) dan S1 (suhu tinggi dalam rumah kaca 33-38 0C). Perlakuan cekaman suhu dilakukan pada saat tanaman padi memasuki fase reproduktif selama ± 35 hari (bunting sampai pembungaan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata diantara varietas yang diamati terhadap panjang malai (cm), berat gabah berisi per malai (g) dan berat 1000 butir (g), perbedaan yang nyata terhadap jumlah gabah per malai (bulir). Perlakuan cekaman suhu sangat nyata mempengaruhi jumlah gabah per malai, persentase gabah berisi per malai, persentase gabah hampa per malai dan berat gabah berisi per malai, sedangkan interaksi antara varietas dan cekaman suhu tidak memberikan pengaruh yang nyata. Berdasarkan nilai HSI, varietas Sileso (V1) dan Angkop (V4) tergolong varietas moderat toleran terhadap suhu tinggi.