TRAINING ON THE MAKING OF HERBAL TEA FROM TEMURUI LEAVES AS AN EFFORT TO REDUCE THE RISK OF COVID 19
Abstrak
Alue Beurawe merupakan salah satu desa yang terletak di Kota Langsa yang merupakan salah satu kota yang terjangkit virus Covid-19. Hampir semua kecamatan di Kota Langsa merasakan dampak negatif dari penyebaran virus Covid-19 sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk mencegah penularan virus tersebut. Orang yang rentan terpapar virus tersebut adalah orang-orang yang memiliki riwayat penyakit degeneratif, seperti kanker, kolesterol, jantung, asma, dan sebagainya. Semua penyakit degeneratif disebabkan oleh sistem imun yang tidak mampu melawan perkembangan virus di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu perlu diberikan asupan vitamin kedalam tubuh yang mampu membentengi diri dari penyebaran virus-virus berbahaya, salah satunya adalah bahan yang bersifat antioksidan. Temurui merupakan salah satu bahan alam yang merupakan tumbuhan lokal yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Tanaman ini banyak didapati tersebar di seluruh Propinsi Aceh. Mayoritas masyarakat Aceh menggunakan Tanaman temurui sebagai rempah penyedap masakan, salah satunya masyarakat Desa Alue Beurawe. Berdasarkan riset yang telah dilakukan oleh tim pengabdi sebelumnya, daun temurui ini berpotensi sangat baik sebagai antioksidan yng dapat menurunkan risiko penyakit degenerative dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pembuatan teh herbal berbahan baku daun temurui merupakan salah satu upaya dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal desa Alue Beurawe dalam mengatasi resiko peyebaran virus Covid-19 yang sedang berkembang saat ini. Melalui kegiatan PKM diharapkan dapat menambah keterampilan masyarakat dalam mengolah daun temurui menjadi obat herbal dalam bentuk teh celup untuk dapat dikonsumsi secara pribadi sebagai alternatif upaya penurunan penularan virus Covid-19 dan dapat juga dipasarkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Kegiatan PKM ini dilakukan dalam bentuk pelatihan langsung dengan masyarakat Alue Beurawe, khususnya ibu-ibu PKK dan ibu-ibu rumah tangga yang tidak produktif. Setelah itu dalam kegiatan PKM ini juga dilakukan pendampingan masyarakat dengan harapan masyarakat dapat memproduksi teh herbal tersebut secara berkelanjutan sebagai produk unggulan daerah.
