Dinamika Sosial Budaya Dalam Tradisi Pawai Ogoh-Ogoh Di Desa Adat Kuta Bali

  • Laila Fauziah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya
  • Nabila Zalia Rahma Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
  • Akhna Khoiro Akhila Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
  • Siti Dwi Makhzumah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
  • Azki Faisal Hamdani Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
  • Sugiantoro Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia

Abstract

Tradisi pawai Ogoh-Ogoh di Desa Adat Kuta, Bali, merupakan representasi dinamika sosial budaya masyarakat Bali dalam menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi dan pariwisata. Awalnya bersifat sakral, kini ogoh-ogoh mengalami transformasi makna menjadi medium kritik sosial, ekspresi budaya, hingga simbol partisipasi generasi muda. Melalui pendekatan interaksionisme simbolik dan performativitas budaya, penelitian ini menunjukkan bahwa makna ogoh-ogoh dibentuk melalui interaksi sosial dan kontekstualisasi nilai. Peran Sekaa Teruna Teruni (STT) sangat sentral, baik dalam pembuatan, tema, maupun inovasi ekologis dan visual. Fenomena glokalisasi tercermin dari integrasi nilai lokal dengan pengaruh global, termasuk keterlibatan perempuan dan komunitas non-Hindu. Tradisi ini bukan hanya media pelestarian budaya, tetapi juga arena negosiasi identitas, resistensi terhadap komodifikasi, dan regenerasi nilai-nilai kultural.

References

Ardika, I. W. (2015). Spiritualitas dan Budaya Bali dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah. Denpasar: Pustaka Larasan.

Ardika, I. W. (2021). Manajemen Pariwisata Budaya di Bali. Denpasar: Pustaka Balitri.

Atmadja, N. B., & Pageh, I. M. (2010). Pengantar Ilmu Budaya Bali. Denpasar: Udayana University Press.

Blumer, H. (1969). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.

Butler, J. (1997). Excitable Speech: A Politics of the Performative. New York: Routledge.

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: University of Michigan Press.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Hall, S. (1990). Cultural Identity and Diaspora. In Rutherford, J. (Ed.), Identity: Community, Culture, Difference. London: Lawrence & Wishart.

Robertson, R. (1995). Glocalization: Time-Space and Homogeneity-Heterogeneity. In Featherstone, M., Lash, S., & Robertson, R. (Eds.), Global Modernities. London: Sage Publications.

Indrayana, I. K. (2006). Tradisi Ogoh-Ogoh dan Tantangan Modernitas di Bali. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Utami, N. P. A. (2022). “Partisipasi Pemuda dalam Gerakan Ogoh-Ogoh Ramah Lingkungan.” Jurnal Ekspresi Seni dan Budaya, 7(1), 89–102.

Puspitasari, M. (2023). “Transformasi Fungsi Ogoh-Ogoh sebagai Media Edukasi Sosial.” Jurnal Budaya dan Tradisi Nusantara, 11(2), 114–128.

Yuliani, N. K. S. (2020). “Ogoh-Ogoh Sebagai Kritik Sosial dalam Masyarakat Bali Kontemporer.” Jurnal Sosiokultural Bali, 6(1), 45–56.

Wiana, I. G. N. (2004). Memahami Simbol & Makna Upacara Keagamaan Hindu. Surabaya: Paramita.

Sutrisna, I. G. (2004). Sejarah dan Budaya Pura-Pura di Bali. Denpasar: CV. Bali Sejahtera.

Wibawa, I. M. (2020). “Daya Tarik Pertunjukan Tari Kecak bagi Wisatawan Mancanegara di Pura Uluwatu.” Universitas Udayana.

Suardana, I. B. G., & Pitana, I. G. (2020). “Tri Hita Karana sebagai Dasar Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Bali.” Jurnal Kepariwisataan Indonesia, 10(1), 45–58.

Suryawan, I. G. N. A. (2020). “Keseimbangan Pariwisata dan Kesucian Pura: Studi Kasus di Uluwatu.” Jurnal Kajian Budaya Bali, 12(2), 88–97.

Suryawan, I. G. A. (2021). “Pentingnya Sad Kahyangan dalam Konteks Pariwisata Spiritual di Bali.” Jurnal Pariwisata Budaya, 9(2), 145–158.

Disbud Bali. (2021). Laporan Tahunan Pelestarian Warisan Budaya. Denpasar: Dinas

Kebudayaan Provinsi Bali.

Ardhana, I. K. (2020). Pemetaan Tipologi dan Karakteristik Desa Adat di Bali. In Cakra Media Utama.

Eiseman, F. B. (2011). Bali: Sekala & niskala: Essays on religion, ritual, and art. Tuttle Publishing.

Ketuhanan, K., Tattwa, T., Oleh, J., Made, N., Kurnia, E., Stahn, D., & Kuturan Singaraja, M. (2020). Śruti: Jurnal Agama Hindu. ŚRUTI: Jurnal Agama Hindu, 1(1), 11–19. http://jurnal.ekadanta.org/index.php/sruti/article/view/57

Laksmi Gayatri, I. A. D. (2021). Implementasi Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kawasan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. Institut Pemerintahan Dalam Negeri.

Prabandari, I. S., & Sonder, I. W. (2021). Dampak Pawai Ogoh Ogoh terhadap sosial budaya masyarakat di Desa Adat Kuta. Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Agama dan Budaya, 6(1), 92–103. https://doi.org/10.25078/pba.v6i1.1931

Wulandari, N. P. M. (2025). Menggali estetika ogoh-ogoh: simbol Bhuta Kala dan pesan sosial dalam kesenian Bali. Widya Sundaram: Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya, 3(1), 45–60. https://doi.org/10.53977/jws.v3i1.2390

Prianta, P. A., & Sulistyawati, A. (2024). Development of the ogoh-ogoh parade from a religious ritual to a tourist attraction in Bali. Journey: Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management, 7(1), 77–96. https://doi.org/10.46837/journey.v7i1.194

Gunawan, I. W., & Surya Buana, A. A. N. G. (2016). Seni Ogoh‑Ogoh (Konteks, Teks, dan Efek). Prabangkara: Jurnal Seni Rupa dan Desain, 19(23), 1–15. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i1.632

Ramadhansyah, D., & Damajanti, I. (2022). Telusur sejarah ogoh-ogoh sebagai manifestasi seni rupa Bali dari sudut pandang komodifikasi budaya. Jurnal Seni Nasional Cikini, 8(1), 33–42. https://doi.org/10.52969/jsnc.v8i1.161

Published
2025-07-14
How to Cite
Fauziah, L., Rahma, N. Z., Akhila, A. K., Siti Dwi Makhzumah, Azki Faisal Hamdani, & Sugiantoro. (2025). Dinamika Sosial Budaya Dalam Tradisi Pawai Ogoh-Ogoh Di Desa Adat Kuta Bali. SEUNEUBOK LADA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya Dan Pendidikan, 12(2), 321-335. https://doi.org/10.33059/jsnbl.v12i2.11955