Maria Walanda Maramis And The Production Of Social Ideas In Minahasa In The Early 20th Century

Maria Walanda Maramis dan Produksi Gagasan Sosial di Minahasa Awal Abad Ke-20

  • Khaerul Amri Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado
  • Ivan R. B. Kaunang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado
  • Roger A.C. Kembuan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado
Keywords: Female intellectuals, colonial, Minahasa, social history

Abstract

Artikel ini menjawab kecenderungan historiografi intelektual Indonesia yang masih bersifat tekstual, maskulin, dan Jawa-sentris dengan mengangkat Maria Walanda Maramis sebagai intelektual perempuan non-elitis di Minahasa awal abad ke-20. Berangkat dari kritik terhadap definisi intelektualitas yang membatasi produksi gagasan pada teks tertulis dan arena politik formal, artikel ini menawarkan pembacaan alternatif terhadap intelektualitas yang beroperasi melalui praktik sosial, organisasi komunitas, dan artikulasi nilai-nilai moral. Dengan menggunakan pendekatan sejarah intelektual yang diperluas dan perspektif gender, artikel ini menunjukkan bahwa Maria Walanda Maramis memproduksi gagasan sosial melalui aktivitas organisasi, pendidikan perempuan, serta pembentukan wacana keibuan dan moralitas sosial. Intelektualitas Maria tidak diwujudkan dalam bentuk teks teoritis, melainkan dalam praktik sosial yang berkelanjutan dan berdampak luas di tingkat komunitas. Artikel ini berargumen bahwa pengakuan terhadap bentuk intelektualitas non-elitis tidak hanya memperkaya pemahaman tentang sejarah intelektual Indonesia kolonial, tetapi juga menantang batasan konseptual mengenai siapa yang dapat disebut sebagai intelektual.

References

Bataviaasch Nieuwsblad. (1918). Berbagai laporan mengenai pendidikan dan kegiatan sosial perempuan di Minahasa. Batavia.

Blackburn, S. (2004). Women and the state in modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.

Burke, P. (2005). History and social theory (2nd ed.). Cambridge: Polity Press.

De Locomotief. (1917). Berita tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan di Minahasa. Semarang.

De Locomotief. (1920). Laporan mengenai organisasi perempuan dan pendidikan keluarga di Minahasa. Semarang.

Gouda, F. (2008). Dutch culture overseas: Colonial practice in the Netherlands Indies, 1900–1942. Amsterdam: Amsterdam University Press.

Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks (Q. Hoare & G. N. Smith, Eds. & Trans.). New York, NY: International Publishers.

Kartini, R. A. (1911). Door duisternis tot licht [Habis gelap terbitlah terang]. The Hague: J.H. de Bussy.

Kartodirdjo, S. (1992). Pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Jakarta: Gramedia.

Koloniaal Verslag. (1921). Verslag van het beheer en den staat der Nederlandsche bezittingen en koloniën. ’s-Gravenhage: Landsdrukkerij.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Locher-Scholten, E. (2000). Women and the colonial state: Essays on gender and modernity in the Netherlands Indies, 1900–1942. Amsterdam: Amsterdam University Press.

Robinson, K. (2009). Gender, Islam and democracy in Indonesia. London: Routledge.

Said, E. W. (1994). Representations of the intellectual. New York, NY: Vintage Books.

Scott, J. W. (1986). Gender: A useful category of historical analysis. The American Historical Review, 91(5), 1053–1075. https://doi.org/10.2307/1864376

Published
2026-02-15
How to Cite
Amri, K., Kaunang, I. R. B., & Kembuan, R. A. (2026). Maria Walanda Maramis And The Production Of Social Ideas In Minahasa In The Early 20th Century. SEUNEUBOK LADA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya Dan Pendidikan, 13(1), 29-40. https://doi.org/10.33059/jsnbl.v13i1.13730