Rateb Bejalan: The Body That Remembers, The Environment, And Monotheism In The Tamiang Malay Community

Rateb Bejalan: Tubuh Yang Berzikir, Lingkungan, Dan Ketauhidan Dalam Masyarakat Melayu Tamiang

  • Elisa Suherry Indonesian Institute of the Arts Surakarta
  • Sunarmi Sunarmi Indonesian Institute of the Arts Surakarta
Kata Kunci: Walking Rate, Tamil Nadu Malays, Safar, collective rituals

Abstrak

Artikel ini menganalisis Rateb Bejalan pada masyarakat Melayu Tamiang sebagai ritus kolektif yang menautkan relasi manusia, lingkungan (alam), dan Tuhan dalam kerangka estetika Triloka/Tri Patrit yang menekankan hubungan triadis tersebut. Ritus ini dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Safar selama tiga malam berturut-turut melalui prosesi berjalan sambil melantunkan zikir dari batas hingga penghujung kampung, dengan tujuan memohon perlindungan Ilahi, menolak marabahaya, serta mendoakan agar alam dan lingkungan dilindungi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif berbasis telaah literatur dan pembacaan analitis atas deskripsi tahapan ritual (musyawarah, pembersihan kampung, penggunaan obor dan panji tauhid, serta kenduri penutup). Analisis memanfaatkan antropologi ritual klasik: Durkheim untuk menjelaskan bagaimana ritus kolektif memperkuat solidaritas dan memperbarui kesadaran kolektif; Turner untuk menafsir prosesi sebagai situasi liminal yang memunculkan communitas; serta Geertz untuk membaca zikir, panji, dan prosesi sebagai sistem simbol yang membentuk suasana religius dan dorongan tindakan sosial. Temuan interpretatif menunjukkan bahwa estetika Rateb Bejalan tidak semata keindahan bentuk, melainkan mekanisme sosial-emosional yang menata kerentanan Safar menjadi keteraturan makna, menguatkan kohesi komunal, dan mengafirmasi etika keseimbangan manusia-alam di bawah prinsip ketauhidan.

Referensi

Ali, M.: Tradisi Islam dan Budaya Melayu di Aceh. Pustaka Obor Indonesia (2017)

Ali, M., & Ismail, S.: Kearifan Lokal dan Spiritualitas dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Aceh. Universitas Syiah Kuala Press (2019)

Aziz, S.: Peran Tamiang dalam jalur perdagangan dan penyebaran Islam di Selat Malaka. Jurnal Sejarah 15(3), pp. 23–45 (2016)

Asad, T.: The Idea of an Anthropology of Islam. Center for Contemporary Arab Studies, Georgetown University, Washington, D.C. (1986)

Barthes, R.: Image, Music, Text. Hill and Wang, New York (1977)

Braginsky, V.: The Heritage of Traditional Malay Literature: A Historical Survey of Genres, Writings and Literary Views. KITLV Press, Leiden (2004)

Geertz, C.: The Interpretation of Cultures: Selected Essays. Basic Books, New York (1973)

Hadi, A.: Islam dan Budaya Melayu: Perspektif Sejarah dan Perubahan Sosial. Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (2010)

Harun, H.: Tradisi Ritual dalam Masyarakat Melayu Pesisir: Antara Sakral dan Sosial. Jurnal Kebudayaan Melayu 12(2), pp. 145–160 (2018)

Hadi, S.: Bencana Alam dan Masyarakat Pesisir: Perspektif Sosial dan Ekologis. Penerbit Andi (2015)

Hadi, A.: Menguak Beberapa Dimensi Budaya Kerajaan Aceh (Sebuah Kajian Historis). (2008). https://doi.org/10.30821/MIQOT.V32I1.159

Ismail, M.: Islam Lokal dan Tradisi Rateb di Aceh: Perspektif Antropologi Agama. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat 6(1), pp. 22–37 (2020)

Idris, M., & Amalia, D.R.: Syariat Islam dan Tradisi di Aceh Darussalam. (2022). https://doi.org/10.55927/fjss.v1i1.457

Koentjaraningrat.: Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta, Jakarta (1987)

Kamal, F.: Akomodasi Tradisi dan Kearifan Lokal Nusantara dalam Memitigasi Bencana Alam dan Pelestarian Lingkungan. Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 9(1), pp. 89–112 (2025). https://doi.org/10.52266/tadjid.v9i1.2641

Lubis, M.I., Mardianto, A., Wakhid, N., & Wahyoeningsih, K.K.: Hukum Adat: Syariat Islam dan Berakhirnya Otonomi Khusus Aceh 2027. Soedirman Law Review 6(3), pp. 144–158 (2024). https://doi.org/10.20884/1.slr.2024.6.3.16077

Maulina, W., Aklima, A., Saputra, H., & Silva, D.M.D.: Representation of the Tulak Bala Tradition in the South Acehnese Community. IAS Journal of Localities 3(1), pp. 47–61 (2025). https://doi.org/10.62033/iasjol.v3i1.105

Marzuki, M.: Tradisi Peusijuek dalam Masyarakat Aceh: Integritas Nilai-Nilai Agama dan Budaya. (2011). https://doi.org/10.18860/EL.V0I0.458

Nasir, M., & Mawardi, M.: Negotiation of the Ma’rifah Community Identity Informing Sufistic Sholihan in Seuruway Community of Aceh Tamiang. Jurnal Ushuluddin 28(1), pp. 99–111 (2020). https://doi.org/10.24014/JUSH.V28I1.7050

Nurlaila, A.: Kohesi Sosial dalam Masyarakat Aceh: Studi Kasus Ritual dan Tradisi. Penerbit Hukum (2014)

Rahman, H.: Spiritualitas dalam Tradisi Melayu Tamiang: Analisis Ritual dan Simbolisme. Journal of Malay Studies 11(2), pp. 56–72 (2019)

Sulaiman, M.T.: Kearifan Lokal dan Spiritualitas dalam Tradisi Melayu Tamiang. Jurnal Budaya Nusantara 8(1), pp. 33–49 (2015)

Syamsuddin, I.: Tradisi Islam Lokal di Pesisir Timur Aceh: Sebuah Kajian Etnografis. Ar-Raniry Press, Banda Aceh (2017)

Zulkifli, A.: Rateb dan Ekspresi Islam Sufistik di Aceh: Sebuah Pembacaan Sosio-Religius. Jurnal Ulumul Islamiyyah 24(3), pp. 201–219 (2022)

Sweeney, A.: A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. University of California Press, Berkeley (1987)

Schechner, R.: Performance Theory (Revised and Expanded Edition). Routledge, London and New York (2003)

Turner, V.: The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing, Chicago (1969)

Turner, V.: From Ritual to Theatre: The Human Seriousness of Play. Performing Arts Journal Publications, New York (1982)

Turner, V.: Dramas, Fields, and Metaphors: Symbolic Action in Human Society. Cornell University Press, Ithaca, NY (1974)

Arifin, M.: Islam dan Akulturasi Budaya Lokal di Aceh (Studi terhadap Ritual Rahulei di Kuburan dalam Masyarakat Pidie Aceh). (2016). https://doi.org/10.22373/JIIF.V15I2.545

Azis, H.S., Rahmi, W., & Sutajaya, M.: The Tradition of Saparan in Yeh Sumbul Village, Jembrana, Bali. International Journal of Sustainable Social Science 2(5), pp. 299–308 (2024). https://doi.org/10.59890/ijsss.v2i5.2613

Bahri, S., Simangunsong, A.A., Abraar, M.N., & Shaleh, A.R.: The Symbolic Meaning of Seurumbek Recitation in the Keunduri Blang Tradition: Study of Living Qur'an in Pidie, Aceh, Indonesia. Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah 21(1), pp. 1–1 (2024). https://doi.org/10.22373/jim.v21i1.13521

Durkheim, É.: The Elementary Forms of Religious Life. Translated by Karen E. Fields. Free Press, New York (1995) [orig. 1912]

Efendi, J.: Strategi Majelis Adat Aceh (MAA) dalam Melestarikan Budaya Aceh. (2018). https://doi.org/10.22373/AL-IDARAH.V2I2.4422

Hariadi, J., Fadhilah, M.A., Rizki, A., & Fajarini, I.: Revitalizing Tepung Tawar to Protect Local Cultural Heritage of Aceh Tamiang. (n.d.)

Hasan, R.: Kepercayaan Animisme dan Dinamisme dalam Masyarakat Islam Aceh. (2012). https://doi.org/10.30821/MIQOT.V36I2.119

Hasjmy, A.: Kebudayaan Aceh dalam Sejarah. (2020). https://doi.org/10.26180/5E3108B0562F3

Sunarmi, S., Handriyotopo, H., Prasetyo, R.E.B., Abdurrahman, R., Renaningtyas, Y., & Priyandani, N.W.: ISI Surakarta Holds Training to Empower Aisyiyah Residents Increase the Trade Value of Typical Karanganyar Souvenirs. International Journal of Social Science 3(4), pp. 491–498 (2023)

Diterbitkan
2026-04-23