KEDUDUKAN DAN RELASI LEMBAGA PEMERINTAHAN ADAT ACEH DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

  • Ida Tutia Rakhmi Universitas Syiah Kuala
  • Muhammad Iqbal Universitas Samudra
  • Anhar Nasution Universitas Abulyatama
  • Saiful Anwar Universitas Samudra
Keywords: lembaga adat Aceh; hukum tata negara; pemerintahan daerah; pluralisme hukum.

Abstract

Pengakuan negara terhadap masyarakat hukum adat merupakan bagian penting dalam sistem ketatanegaraan Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan dan keistimewaan memperoleh pengaturan khusus mengenai lembaga adat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan berbagai Qanun Aceh. Meskipun secara normatif lembaga pemerintahan adat telah diatur, dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan masih ditemukan ketidakharmonisan relasi antara lembaga adat dan pemerintahan formal, yang ditandai dengan tumpang tindih kewenangan dan lemahnya koordinasi kelembagaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan historis. Bahan hukum yang digunakan meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, yang dianalisis secara kualitatif dengan penalaran hukum deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga pemerintahan adat Aceh memiliki kedudukan sebagai entitas yang diakui secara konstitusional dan yuridis, namun tidak termasuk sebagai organ negara dalam struktur pemerintahan. Posisi tersebut menempatkan lembaga adat pada wilayah antara pengakuan dan pembatasan kewenangan, sehingga memunculkan problem relasi dengan pemerintahan formal. Ketidakharmonisan tersebut bersumber dari belum adanya penegasan normatif mengenai pembagian kewenangan dan mekanisme koordinasi antar lembaga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan peran lembaga pemerintahan adat Aceh memerlukan penataan normatif yang lebih jelas dan operasional. Oleh karena itu, disarankan adanya harmonisasi regulasi dan penguatan desain relasi kelembagaan agar lembaga adat dapat berfungsi secara efektif dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berkeadilan dan berakar pada nilai-nilai lokal.

References

Abdullah Sani, M. Nur Rasyid, and M. Yusuf Al-Qardhawy. “Eksistensi Mejelis Permusyawaratan Ulama Dan Lembaga Wali Nanggroe Dalam Sosiokultural Dan Hukum Di Aceh.” Future Academia 2, no. 3 (2024): 315–28. https://doi.org/10.61579/future.v2i3.182.

Achmad Asfi Burhanudin. “Eksistensi Hukum Adat Di Era Modernisasi.” Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan 2, no. 4 (2021): 96–113. https://doi.org/10.2906/salimiya.v2i4.466.

Anhar Nasution, Irwansyah, and Muhammad Iqbal. Ambiguitas Kewenangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah Pasca Undang-Undang Cipta Kerja. 9, no. 2 (2025): 118–37. https://doi.org/10.35308/jic.v9i2.13541.

Asep Mahbub Junaedi. Hukum Tata Negara Indonesia: Teori, Struktur Kekuasaan, Dan Masa Depan Konstitusi. Filosofis Indonesia Press, 2025.

Birman Simamora, Eddy Asnawi, and Andrizal. “Otonomi Khusus Terhadap Eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Jurnal Analisis Hukum 4, no. 2 (2021): 242–63. https://journal.undiknas.ac.id/index.php/JAH/article/view/3047/981.

Bohari Muslim. Menggapai Keadilan Melalui Lembaga Peradilan Adat (Saraq Opat Dalam Kehidupan Masyarakat Gayo). CV Detak Pustaka, 2025.

Gabriela Yonike and Anak Agung Istri Eka Krisna Yanti. “Pluralisme Hukum: Hukuman Cambuk Di Aceh Sebagai Produk Otonomi Khusus Dalam Perpekstif Konstitusi.” Jurnal Media Akademik (JMA) 4, no. 1 (2026): 1–16. https://doi.org/10.62281/zne07572.

Hairun Tri Wahyuni Sagala. “Kajian Teori Pluralisme Hukum Terhadap Sistem Hukum Di Aceh.” Interdisciplinary Journal on Law, Social Sciences and Humanities 3, no. 2 (2022): 115–29. https://doi.org/10.19184/idj.v3i2.35095.

Jhonny Ibrahim. Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Bayu Media Publishing, 2022.

Muhammad Al Akhyar Buchari and Ibnu Qodir. “Revitalisasi Lembaga Adat Sebagai Instrumen Pemberdayaan Masyarakat Aceh Studi Implementasi Pasal 98-99 UU Pemerintahan Aceh.” MUBEZA: Pemikiran Hukum Dan Ekonomi Islam 15, no. 1 (2025): 1–11. https://doi.org/10.54604/mbz.v15i1.540.

Muhammad Arsad Nasution, Muhammad Wandisyah R. Hutagalung, and Maulana Arafat Lubis. MASYARAKAT ACEH, LOMBOK, DAN SUMATERA BARAT Tinjauan Kearifan Lokal Dan Peraturan Daerah Syariah. Penerbit Samudera Biru, 2023.

Muhammad Iqbal, Azhari Yahya, and Husni Kamal. “Pola Penyelesaian Sengketa Dalam Rumah Tangga Melalui Peradilan Adat Gampong Di Aceh.” Jurnal Geuthèë: Penelitian Multidisiplin 3, no. 1 (2020): 383–92. https://doi.org/10.52626/jg.v3i1.72.

Muhammad Iqbal, Radhali, Zaki Ulya, Andi Rachmad, Hanri Aldino, and Muhammad Iqbal Asnawi. Metodologi Penelitian Hukum (Panduan Teoritis Dan Praktis). CV SANGPENA MEDIA, 2025.

Muhammad Madehin Nashih. “Sociological Analysis of Islamic Law on the Relationship between Adat Law, Ethics, and Human Rights in the Context of Modern Indonesia.” Law and Judicial Review (LJR) 1, no. 2 (2025): 90–108. https://doi.org/10.70764/gdpu-ljr.2025.1(2)-08.

Muhammad Zainuddin and Aisyah Dinda Karina. “Penggunaan Metode Yuridis Normatif Dalam Membuktikan Kebenaran Pada Penelitian Hukum.” Smart Law Journal 2, no. 2 (2023): 114–23. https://e-journal.unkaha.ac.id/index.php/slj/article/view/26.

Mukhlis. Otonomi Daerah & Mukim Di Aceh. Biena Edukasi, 2017.

Mursyid Djawas, Abidin Nurdin, Muslim Zainuddin, Idham, and Zahratul Idami. “Harmonization of State, Custom, and Islamic Law in Aceh: Perspective of Legal Pluralism.” Hasanuddin Law Review 10, no. 1 (2025): 64–82. https://doi.org/10.20956/halrev.v10i1.4824.

Retno Kus Setyowati. “Pengakuan Negara Terhadap Masyarakat Hukum Adat.” Binamulia Hukum 12, no. 1 (2023): 131–42. https://doi.org/10.37893/jbh.v12i1.601.

Ridha Maulana, Oka Dian Kurniawati, Dwi Pragasa Ananda, Arsudian Putra, and Miswardi. “Sistem Hukum Di Aceh Dan Kaitannya Dengan Pluralisme Hukum.” Jurnal Geuthèë: Penelitian Multidisiplin 2, no. 3 (2019): 323–31. https://doi.org/10.52626/jg.v2i3.66.

Rina Yulianti. Perlindungan Hukum Bagi Hak Masyarakat Atas Sumber Daya Pesisir. Scopindo Media Pustaka, 2022.

Sari Yulis. “Metodologi Penelitian Hukum Sebagai Kerangka Analisis Isu Hukum Kontemporer.” Locus Journal of Academic Literature Review 4, no. 9 (2025): 808–18. https://doi.org/10.56128/ljoalr.v4i9.800.

Sulaiman Tripa. Rekonstruksi Pemerintahan Gampong. Bandar Publishing, 2019.

Teuku Muttaqin Mansur, Sulaiman, and Hasbi Ali. “Adat Court in Aceh, Indonesia: A Review of Law.” Jurnal Ilmiah Peuradeun 8, no. 2 (2020): 423–42. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v8i2.443.

Teuku Saiful Bahri Johan. Politik Negara Atas Pluraritas Hukum Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Deepublish, 2015.

Zaini Hilmi, Hanri Aldino, Siti Sahara, and Muhammad Iqbal. “Model Penegakan Hukum Berbasis Adat Laot Oleh Panglima Laot Terhadap Aktivitas Pukat Harimau Sebagai Ancaman Kelestarian Ikan.” Meukuta Alam : Jurnal Ilmiah Mahasiswa 7, no. 2 (2025): 234–50. https://doi.org/10.33059/majim.v7i2.13327.

Zaki Ulya. Hukum Kelembagaan Negara (Kajian Teoritis Kedudukan Lembaga Negara Pasca Reformasi). Universitas Samudra, 2017.

Published
2026-06-01
How to Cite
Ida Tutia Rakhmi, Muhammad Iqbal, Anhar Nasution, & Saiful Anwar. (2026). KEDUDUKAN DAN RELASI LEMBAGA PEMERINTAHAN ADAT ACEH DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA. Jurnal Hukum Samudra Keadilan, 21(1), 114 - 129. https://doi.org/10.33059/jhsk.v21i1.14167